Mengenal mu tak semudah melupakan mu
Sekeras apapun aku berusaha, sepertinya kita memang tidak akan menjadi dua kubu yang akhirnya bersatu. Mungkin kamu memang yang aku mau, tapi Tuhan lebih tau kalau kamu bukan yang aku perlukan saat ini. Meskipun akhirnya menyakitkan, meskipun setelah semua yang aku berikan untuk mu, kamu hanya membalasnya dengan sakit dan luka.
Jika pada awal perkenalan kita aku menuliskan namamu dengan huruf miring seperti sesuatu yang asing, kali ini aku menuliskan nya dengan berbeda. Aku menuliskan namamu dengan huruf tebal seperti sesuatu yang penting. Namun sedihnya kamu berbuat sebaliknya. Kamu bahkan tidak menambahkan apapun pada tulisan mu. Datar tanpa italic, bold, atau pun underline.
Aku menutup diriku rapat-rapat untuk waktu yang cukup lama. Aku enggan membukanya hanya untuk orang - orang yang tidak dapat bertanggung jawab. Untuk mereka yang dengan gagahnya membuka pintu namun enggan untuk menutupnya kembali setelah menyelesaikan apa yang mereka lakukan. Seperti sengaja membiarkan aku berharap mereka akan kembali lagi.
Aku memang tidak sempurna, rupaku tidak menawan, tubuhku tidak sebagus dirinya dan rambut ku pun tidak seindah dirinya. Aku tidak sesempurna dirinya namun dengan bodohnya aku selalu berharap untuk mendapatkan orang yang sempurna. Setidaknya sempurna seperti dirinya.
Aku bukan gadis yang mudah untuk di dekati atau mendekati seseorang. bukan juga gadis yang mudah bercerita atau menceritakan tentang siapa diriku. Aku wanita yang lebih sering menutup rapat dirinya karena enggan di kasihani sampai akhirnya gadis yang menutup semuanya rapat ini harus membuka dirinya kepada mu.
Berawal dari perkenalan tidak sengaja di sebuah situs pencarian. Berawal dari sebuah tulisan "match" yang awalnya tidak membuat jantungku berdegup. Di situs itu aku berharap aku dapat menemukan seseorang yang dapat mengisi ruang besar yang kosong karena ditinggalkan oleh pemilik yang enggan menutup pintu.
Bersenda, bersua, berkeluh dan berbagi. Semua nya nampak biasa saja tanpa ekspektasi apapun. Sampai suatu hari, semua nya berubah menjadi semakin bersemangat dan menarik. Intensitas kami bertambah kencang. Banyak hal yang ditukar dari mulai riuh dan bisingnya kota Jakarta, perasaan menggebu ingin bertemu dan banyak hal lainnya. Hingga tanpa aku sadari di depan rumah ku sudah banyak bunga yang bermekaran hingga banyak orang bertanya apakah aku sedang jatuh cinta lagi. Sebagian juga menasihati ku tentang cinta. Mereka bilang jika benar ada rasa dia tak akan pergi dan datang sesuka hati. Jika dia dan datang dan pergi sesuka hati aku harusnya bisa mengerti apa itu. Dan mereka terus berkata bahwa melupakan tidak semudah saat kamu mengenal dan aku harus mempersiapkan diriku untuk kemungkinan paling buruk sekalipun.
Tau kah kamu bahwa ketengan itu tidak pernah sibuk kita saja yang kurang akrab dengan si tenang. Semenjak kehadiran mu tenang ku menjadi tak menentu, bukan hanya perasaan ku saja yang kau buat naik dan turun. Kamu juga membuat si tenang menjadi tidak akrab lagi dengan ku. Hingga akhirnya dia pergi menjauh dan terus menghilang hingga rasa gundah yang terus tersisa dalam diriku.
Dan tentu saja, aku yang awalnya berpikir bahwa kamu bermaksud menetap harus menelan pil pahit dengan kenyataan bahwa kamu hanya singah. Aku bahkan bersumpah bahwa selang beberapa waktu dari sekarang, kamu akan melihat ku berbeda. Hadirmu tak lagi mengganguku, senyum mu tak lagi merusak hariku. Aku akan lebih bahagia dan aku akan menemukan seseorang yang mencintaiku lebih dari caramu dan yang tak mampu melepasku seperti kamu melepasku.
Dan saat itu aku menyalahkan mu karena telah membuatku menyingkirkan si tenang demi kamu yang hanya mampu memberikan ku gemuruh. Dan aku merindukan malam itu. Malam yang tenang dan sepi tanpa adanya kamu.
Aku harus bagaimana, aku membutuhkan dia namun hatiku berkata sudah. Aku bukan untuknya.

Komentar
Posting Komentar