De Jure and De Facto




      De Jure and De Facto





Menurutku, rindu itu mendalam
sementara kangen itu spontan ( Pidi Baiq. Dilanku 1990)

Dan ya, menurutku itulah yang
kurasakan belakangan ini. Terbelenggu oleh rasa yang telah lama mati, rasa yang
sudah ku kubur dalam – dalam jauh di bawah sana. Aku tak berani mengoreknya
atau membukanya karena sampai dengan detik ini perasaan itu masih untuk mu. 
Semuanya, semuanya masih untuk mu.

Senjaku terlalu berbeda dengan
senjamu. Senjaku terlalu berani mengingatkan ku untuk merindukan mu dan aku
tidak bernyali untuk mengatakan aku rindu. Aku terlalu takut untuk mengungapkan
apa yang sebenarnya sudah kurasakan sekian lama.

Percayakah kamu jika ku bilang, masih
ada duri – duri yang menghimpit jantungku setiap kali aku melihatmu bersama
yang lain? atau setiap kali aku mendengar nama mu di sebut oleh orang yang bukan aku ? 
atau setiap kali aku harus bercerita kepada orang – orang tentang bahagia nya aku memilikimu
dahulu saat kita masih baik - baik saja? 
ya, aku masih sangat mencintai mu karena sampai saat ini aku masih menagis setiap kali aku
menyebut namamu baik dalam doa ku atau dalam harapku atau dalam cerita yang dengan bangga nya aku sampaikan kepada orang - orang yang ku kenal dan ya, getarannya masih sama seperti saat peratama dan tak pernah berubah sampai sekarang

Saat itu senjaku datang lagi dan
menyapa serta membawa kabar jika hati mu sudah dimiliki yang lain. 
Senja yang masih  aku rindukan. Bukan lagi rindu mencintaimu tapi aku rindu bercengkrama ketika
kita masih bukan siapa – siapa. Dan permintaan maaf di kakimu saat itu, jika
aku bisa melakukan nya lagi, aku sudah tapi jika tidak, aku sudah terima.

Percayakah kamu jika selama ini
rindu itu masih membahas tentang mu? tentang betapa manisnya bibirmu, tentang
betapa hangatnya dekapan mu, tetang betapa lembutnya tangan mu ketika
membelaiku, tentang betapa aku merindukan pelukanmu ?
Bagaimana jika ku katakan kali ini aku rindu dengan dirimu yang dulu? 
Rindu tak bisa di atur, untuk siapa dia dituju, kita tidak pernah mengerti. 
Bahkan ketika raga nya ada di samping kita, kita masih tetap bisa merasakan rindu itu
Dan tak perlulah lagi memintaku untuk tidur. Kau saja belum
tidur, lagipula kora sedang cantik malam in
i.

Jika, kamu melihat sebelumnnya aku
baik – baik saja, percayakah kamu jika aku katakan aku baik – baik saja hanya
untuk berbohong di depan semua orang bahwa aku baik ? sementara sebenarnya jauh
di dalam sana tidak ada yang baik. Maafkan aku , tak sepantasnya aku merindukan
mu yang bukan lagi milik ku.

Jika kamu tanyakan kepadaku alasan
ku kenapa aku menyimpan rasa itu sendiri. Alasannya hanya satu,  karena aku tidak bisa menjelaskan perasaan itu. Mana mungkin aku sanggup terang – terangan merindu, sedangkan setiap kali
aku mengingatmu, kenangan akan kemarahan mu, kenangan atas kecewa mu, kenangan atas luka yang telah aku berikan kepada mu lah yang selalu terlintas dalam benak ku.

Jika sekarang kamu memutuskan untuk bersama dengan ku untuk balas dendam atau hanya untuk membuat ku marah atau hanya untuk menyiksa ku yang terang – terangan masih mencintai mu, aku ikhlas karena kamu tau aku tidak bisa membenci mu. 
Tidak akan pernah. 
Yang aku benci ketika merindukan mu itu saja.
Dan untuk itu aku selalu aku lakukan, membiasakan dirku hingga akhirnya aku terbiasa.  
Aku terbiasa dengan semua ini hingga aku mampu merahasiakan perasaan ini dengan baik.

Perihal rindu dan rasa yang tak dapat ku jelaskan ini, biarlah jadi urusanku sebab hanya aku yang rindu kau sibuk dengan dunia mu yang bukan aku. Dan aku paham karena aku tak mempunyai hak apapun lagi dalam hidupmu.

Sebelum kamu datang lagi untuk yang
kedua kali nya, aku sanggup melakukan ini. Melakukan diam ku, karena bagian
paling menyakitkan adalah ketika dalam diam ku aku mencitaimu.

Untuk Rindu, aku hanya ingin bertemu
menghabiskan waktu bersama mu. Untuk rasa, aku tau kau kecewa namun biarlah waktu yang
menjawab doamu semua. Seseorang akan berjuang bersama jika mereka mempunyai
rasa cinta yang sama. Dan tak perlu lah kamu khawatir karena aku tahu dari mana
tempat ku berasal. Dan aku tahu semuanya sudah berbeda sekarang.

Ingatkah kamu ketika dahulu sering ku katakan aku
terbangun di tengah malam yang sunyi ?

Pukul dua belas malam, mataku belum terpejam. Ada
hal yang membayangi pikiran ku. Ada seseorang yang mengecoh detak jantungnya. Saat
kamarnya telah dikurung gelap dan sekitarnya telah tertidur lelap. Ia masih
terjaga bersama ingatan tentang seseorang yang menatapnya tanpa menyapa. Seseorang
yang tesenyum namun bersembunyi. Ia masih terjaga dalam keheningan malam dan
ia menyadari bahwa merindukan seseorang yang bahkan tidak pernah berbicara
dengan nya, ini rindu yang mungkin tidak dapat dimengerti oleh nya atau
siapapun yang pernah merindu. Jujur saja aku sama sekali tida mengerti cara
kerja mimpi, tapi kadang ia menghadirkan orang yang paling kita rindukan tepat
waktu.

Percayakah kamu jika dalam diam malam ku, aku
pernah berpikir begini.

Jika kita tak pernah mengenal, aku tak perlu
mengingatmu. Jika kita tak pernah bersama, aku bahkan tak perlu mencintamu
karena seharusnya kita tak pernah bertemu, seharusnya aku tak pernah menerima
pertemuan itu. Namun ketika aku sadar aku pun sadar akan satu hal. Aku, kamu,
kita manusia. Kita mencinta untuk terluka.

Untuk itu aku tidak pernah memaksakan sebuah
pertemuan ketika rindu itu melanda begitu hebatnya. Percayakah kamu jika ku katakan aku menangis dalam hatiku rapat - rapat bahkan ketika ragamu ada di sampingku, atau bahkan ketika aku sedang memeluk mu? 
aku tak akan pernah memaksamu seperti dahulu saat kita bersama. Jangan paksa untuk bertemu, biarkan
ia sendiri menemukan rasa rindumu dan biarkan rasa rindumu yang membuatnya
ingin menemui ku. Tapi satu hal yang lebih kuyakini kamu bahkan tak pernah
merindukan ku. Ketika aku katakan bahwa aku baik – baik saja kala merindukan
mu. Sesungguhnya tidak. Tidak ada yang sanggup menahan rindu, mereka yang
bilang sanggup sesungguhnya hanya berpura – pura agar rindunya terkendali. Padahal
rasa sakitnya tak bisa tergambar oleh apapun.

Jika aku boleh meminta sedikit hadiah kecil
darimu, aku minta tersenyumlah. Karena senyum mu selalu ku tunggu. Biar kubingkai
sebagai hadiah atas waktu. Sebab kita hampir lupa caranya merindu.

The last thing I belive is, segala sesuatu akan
berakhir pada masanya. Termasuk penantian ini. :)






Komentar

Postingan populer dari blog ini

To the One I Haven’t Met Yet,

I Hope You're Happy