Aku, Rinduku dan Ketakutan ku
Rasanya semua waktu antara aku dan kamu ingin sekali kubuat membeku. Kusimpan dalam lemari kaca di kamarku dan ku ulang-ulang sepanjang waktu. Agar saat-saat seperti malam ini, saat rinduku memuncak dan hendak meledak-meledak, aku dapat menenangkannya dengan mengambil kenangan itu dari lemari kamarku.
Rinduku, ingin sekali aku sampaikan padamu. Tentang kenangan akan hangatnya pelukanmu, bau rokok di bajumu, wangi rambutmu, semilir wangi parfum mu yang membuat ku cukup untuk menenangkan aku yang berdebar menggila, bahkan rasa pasta gigimu dan manisnya bibirmu. Jika kamu bertanya, apa yang kurindukan dari lelaki sepertimu, aku akan menjawab aku bahkan rindu melihat jerawat di pipimu. Atau rambut halus yang mulai tumbuh di dagu mu yang selalu membuat ku geli.
Namun saat rinduku sedang tinggi-tingginya, debar jantung ini seolah semakin menggila karena rindu yang bercampur dengan takut dan cemas. Rindu bukanlah perkara mudah. Menahan gemasnya tangan ku untuk dapat memeluk mu sedikit lebih lama selalu membuat ku menggila.
Rindu membawaku mengingat hal-hal seperti mobil hitam milik nenekmu yang entah mengapa setiap aku melihat mobil berbentuk sama seperti itu imajinasi ku langsung membawa ku kepada kenangan hari itu. Atau motor baru mu, ketika aku dengan lancangnya memeluk mu padahal kamu tak pernah meminta ku.
Kini biar aku menggapaimu terlebih dulu. Rinduku sudah tak mampu kubendung lagi, maukah kamu untuk bertemu?
Andai, aku bisa menjadi sempurna. Andai saja aku bukanlah aku di hidupku yang sekarang. Aku pernah terluka, aku pernah hancur sehancur-hancurnya. Aku pernah berdosa, aku memandang diriku sendiri seorang yang begitu hina. Aku pernah mati, saat ragaku hidup namun jiwaku tak terasa hidup sama sekali. Aku pernah menjerit meminta duniaku untuk disudahi. Aku pernah ada, disaat air mata tak mampu menggambarkan apa-apa lagi.
Andai aku bisa sempurna, namun sayangnya, aku sudah tak utuh dan hancur oleh luka. Aku selalu merasa bersalah setiap menatap mata indah mu. Aku mengasihani mu yang mendapatkan aku yang penuh luka dan hancur. Meskipun aku juga belum yakin betul apakah kamu akan menghancurkan nya lagi atau justru kamu akan merawatnya dengan hati - hati.
Kemarilah, jika kamu sanggup menerima aku yang seperti ini, aku yang terus menangis karena tak sanggup menatap cermin, juga aku yang sama yang tersenyum manis berpose di kamera. Kemarilah, jika kamu bisa menerima aku dan jiwaku yang mungkin butuh waktu untuk pulih seperti sedia kala.
Aku mungkin tak bisa mencintaimu sepenuh hati, namun aku akan mencintaimu dengan semua keping patah hatiku yang tersisa. Hanya jika kamu mampu menerimaku dan hatiku yang tak utuh.
Ketika para pemabuk cinta sibuk merangkai kata bahwa cinta tak butuh alasan, aku tak ingin membenarkan kalimat ini. Aku akan menjadi orang jujur dalam hal cinta, bahwa mencintaimu penuh alasan, penuh rintangan, penuh susah, dan alasan tentang mencintaimu adalah Tuhan.
Kau tau, tidak akan ada yang mampu melebihi alasan itu. Aku sudah terlalu dalam dan jauh membawa namamu ke langit. Membuat aku bertahan dalam rasa yang paling sederhana, membahagiakanmu.
Aku butuh alasan untuk kuat menahan cemburu ketika kamu sibuk bercerita tentangnya Aku butuh alasan untuk sabar menabung rindu hingga bertemu. Aku butuh alasan untuk menerima semua sikapmu. Aku butuh alasan, saat aku tidak menjadi apa-apa bagimu.
Mungkin aku akan terjerembab pada luka terdalam, saat alasan itu tak ada atau ketika ternyata semua hanya ilusi. Mungkin aku akan nestapa dalam harap, jika bukan karna sebuah alasan.
Menerimamu di ruang hatiku paling dalam terkadang menjadi hal paling menyakitkan, menerima fakta bahwa hatimu mungkin masih memendam rasa yang lain, lagi dan lagi, alasan itu membuat aku merela, dan tersenyum meski getir. Atau bahwa kamu juga perlu diyakin kan oleh ku tentang semua ini. Kita berdua bertemu disaat kita sedang sama - sama terluka dan berusaha untuk bangkit.
Memasang wajah bahagia saat kau bercerita bahwa dulu kamu begitu bahagia dengan nya. Menegarkan hati meski patah, menahan sendi agar tak jatuh saat seluruh ototku mati rasa sambil berteriak di dalam dada bisakah aku menggantikan semua cerita bahagia mu ketika dengan nya dulu.
Semua kecemasan dan ketakutan ku sebetulnya beralasan hanya saja alasan itu mungkin tidak masuk akal. Saat aku memilih sebuah alasan, maka aku akan selalu punya alasan untuk bertahan, untuk tetap mencintaimu, meski nanti mungkin kamu akan muak dan memilih pergi karena lelah dengan segala ketakutan ku dan rindu ku yang kadang mungkin membuat mu jenuh
Namun, meskipun begitu aku tau meskipun cerita ini mungkin akan berakhir sebagai cerita patah hati lainnya, atau kisah bahagia ku dengan mu.
Denganmu, aku adalah sesosok senja yang lupa diri sehingga jatuh cinta kepada pagi. Aku menjelma menjadi sosok epitome asing dari diriku sendiri, seasing Polaris yang terus menerus menginginkan bersanding di sisi Sirius. Aku menjelma menjadi naif pada cangkang telur di ujung tanduk, anehnya si naif ini malah berdansa merayakan kenaifannya. Tidak peduli, bahkan jika waktu perayaannya itu hanya satu detik sebelum ia akhirnya jatuh.
Denganmu, aku dibuat bertanya-tanya. Apakah aku adalah aku saat jatuh cinta ataukah memang sekuat inilah aku nyatanya. Denganmu, aku masuk ke dalam keambiguitasan tanpa akhir. Menebak-nebak inikah keberanian cinta atau justru kecerobohan yang akan membuatku terjungkal nantinya?
Aku bersyukur karena sampai saat ini rasamu terhadapku masih sama, untuk esok lusa atau minggu depan biar Tuhan yang tahu dan atur aku terlalu takut untuk sekedar membayangkan nya.

Komentar
Posting Komentar