Tinder i'm so f glad i found you




Pernah ga sih kayak ngerasa kamu itu kesepian, sendiri untuk waktu yang lama ? Bukan karena kamu ingin sendiri. Tapi lebih karena kamu memaksa diri kamu untuk sendiri. Mendalami semua kesalahan yang pernah kamu lewati, menjalani semua hal yang sudah kamu lewati, sesalkan semua hal yang sudah kamu lewati. Kalau kamu pernah melewati atau bahkan sedang menjalani hal itu. Aku hanya ingin bilang kalau aku juga ada di posisi itu. Aku menjadi batu yang keras dan seolah tak bisa di pecahkan hanya karena hal yang sudah aku lewati itu unforgivable. 

Belakangan, hari-hari semakin membosankan. Detik demi detik aku seperti sedang menabung tuntutan. Tuntutan agar cepat selesai, tuntutan agar bijaksana, tuntutan agar menjadi manusia. Tak ada yang mendengarkan, hingga dirimu datang dan menawarkan, sakit untuk kembali merasakan.

Aku jatuh pada setiap nyatamu. Dalam setiap ucapan naif dan explisit yang selalu kamu coba keluarkan ketika kamu mampu mengungkapkannya. Ketika kita sibuk bercerita tentang hari yang sedang kita jalani, tentang semua amarah dan emosi tangisan serta keluhan kita hari itu dan kau dengan naifnya, bingung memilih untuk segera pulang atau mampir ke tempat ku hanya untuk sekedar menghabiskan beberapa waktu tersisa yang kamu punya denganku. Kau bahkan bisa menghabiskan dua jam yang seharusnya bisa kamu habiskan dengan melakukan hal yang lain untuk ku. Jika boleh ku katakan sebelum kamu, ada seorang pria yang dengan gagahnya melakukan hal yang sama seperti apa yang kamu lakukan, berceloteh tentang banyak hal sampai membuat kuping ku panas. Dan aku menikmatinya. Sadarkah kamu, di samping dudukmu aku menahan senyumku sambil berusaha mencuri - curi waktu untuk mengambil beberapa gambar dirimu untuk memastikan bahwa semua ini nyata. Sambil menahan senyum, aku merekam fenomena itu dengan ponsel dan membagikannya pada teman-teman terdekat. "manusia lugu ini begitu menarik perhatian ku" tulisku sebagai dengan wajah merah padam. 

Atau, ketika kamu sibuk menunggui aku keluar dari rumah ku dengan pakaian yang sudah beberapa kali aku ganti. Percayalah aku merubuhkan isi lemari ku demi menemukan satu setelan ternyaman ku hanya untuk menghabiskan beberapa jam saja bersama mu. Iya di pertemuan pertama kita. Pertemuan pertama setelah kita saling menemukan diri kita masing - masing di Tinder. 

Seolah semesta seperti merestui perjalanan kita hari itu, tidak ada satupun yang mengganggu pembicaraan asal - asalan yang kita ciptakan hanya untuk memecah keheningan. 

Diam - diam dalam hati aku berkata dengan suara lantang seperti aku yang akan terjun ke jurang. Bertanya pada diri sendiri, Tuhan, semesta dan segala isinya. "Tuhan apa ini jawaban dari doa ku tentang aku membutuhkan seseorang yang sepadan dengan ku ?" 

Aku mengagumi mu dengan nyata. Aku memandangmu seolah tak percaya. Aku melihatmu seperti mimpi. Ribuan bahkan ratusan kata  yang biasanya sudah aku keluarkan ketika aku nyaman bersama dengan seseorang tiba - tiba tertutup. Bak di terpa tsunami, ratusan huruf dan kalimat di kepala ku hilang. Aku membisu untuk sesaat. 

Sungguh, aku telah jatuh pada setiap nyatamu. Barangkali, aku terlalu dekat. Barangkali pula, kasih sayang yang kulimpahkan pada ragamu amatlah pekat. Namun, jika memang benar ucap Chairil bahwa hidup ialah perihal menunda kekalahan, maka aku ingin berakhir kalah di pelupuk rengkuhmu.

Kau menyenangkan. Semesta menghadirkanmu untuk membubuhi segala piluku dengan senyuman. Obrolan dan hal sederhana lainnya menjadi candu untuk selalu ingin bersamamu. Terhempas semua duka, kau suguhkan tawa bahagia.

Aku menemukan mu tanpa sengaja, hanya dari applikasi yang katanya dapat menyatukan orang dari berbagai negara dengan berbagai latar belakang. Aku mempertaruhkan reputasi ku untuk memainkan applikasi itu. Aku terus berusaha menemukan sesosok orang yang aku yakini mampu menghapus segala kesedihan yang sudah aku lewati hari - hari kemarin. Pada setiap tarikan napas yang terus beriringan denganku karena tubuhmu kini tepat berada di sisiku, kamu sesekali tersenyum, setiap kali berhasil menangkap mataku yang tengah memperhatikanmu diam-diam. Lantas kamu tertawa.

Semua kenangan manis tentang bagaimana tanpa atau dengan segaja semesta meminta mu untuk membenahi aku yang mulai rapuh dan tidak percaya kepada dia si dewa/dewi cinta. Tentang aku yang entah untuk waktu yang sudah berapa lama memilih untuk tidak lagi percaya pada cinta. Namun, dengan nyata nya dengan gagahnya seperti sebuah pohon rindang dengan banyak burung berkicau kamu datang membawa semilir angin hangat dan memeluk tubuhku yang rapuh perlahan seolah aku adalah barang pecah belah yang bisa pecah kapan saja.

Percayalah Tuhan itu adil, aku yang bersedih sampai terisak dan tak dapat berpaling dari dia. Hari ini di pertemukan dengan seseorang yang kembali membuat jantungku berdegup kencang. Entah hanya untuk akhirnya pergi lagi atau untuk menetap. 

Apapun tujuan semesta mendekatkan aku dan kamu, aku yakin semua ini cara adil si Empunya semesta untuk menentramkan hati anak nya yang tersakiti. dan ya, aku tetap memasang shield ku tinggi. untuk mencegah kamu menyakiti aku lagi. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

To the One I Haven’t Met Yet,

I Hope You're Happy

De Jure and De Facto