Caraku melupakan Rindu



Aku membenci hujan. Entah bagaimana aku sama sekali tidak menyukai hujan. Entah bagaimana dan apa penyebab nya aku selalu merasa sedih dan murung tiap kali hujan datang. 



Mungkin karena setiap kali dia datang, dia selalu datang dan membawa kenangan - kenangan manis bersama dengan mu yang sudah lama terhapus oleh waktu dan rasa sesal. 



Aku merindukan kamu yang entah bagaimana kabarnya saat ini.



Ada ratusan pertanyaan yang hinggap tentang dirimu, entah soal aktivitasmu saat ini, atau perasaanmu di masa lalu saat masih di dekatku. Ada juga harapan akan kita yang aku ingin suatu saat bertemu sekali lagi; mungkin kita bisa melakukan hal yang dulu pernah rencanakan, atau setidaknya aku ingin mengucapkan perpisahan secara baik-baik  dan bila memungkinkan aku ingin sekali saja menjelaskan dan memeluk mu untuk yang terakhir kalinya. 



Pun di antara semua itu, ada perasaan bernama rindu yang sering bertandang bersama bayangmu. Satu perasaan yang mendominasi tanpa peduli apa kabar jadwalku kala itu. Perasaan yang bisa saja membuatku bergeming tak mampu bekerja dengan baik. Rindu akan dirimu—yang mungkin tidak akan lenyap. Iya, sekarang aku sedang merindukanmu. Tak kala aku melewati jalan - jalan yang dulu pernah kita lewati bersama. 



tidak kah kamu rindu saat - saat itu ? 



Tapi… jujur, aku tidak ingin merindukan kamu lagi. Jadi, kembalilah ke sini, ke sisiku. Beritahu aku ceritamu, pemikiranmu, mimpimu. Biarkan aku kembali bertemu senyummu, pelukmu, pun perhatianmu.



Kemarilah, temani aku, agar aku tidak perlu merindukanmu lagi.



Andai kata aku boleh berbicara perihal kebenaran, mencintaimu butuh selapang kesabaran. Sebab mencintaimu tak melulu perihal jumpa. Mencintaimu ialah bersedia untuk selalu ada, tetapi tak memaksa untuk selalu bersua. Dan mencintai mu itu perihal tentang bagaimana bersabar mengenai tidak menjadi prioritas untukmu



Kadangkala ada sesak di tiap detik yang berdetak, seolah berontak



Bilamana menunggu itu berarti pilu, bagiku menunggu ialah rindu.



Aku mau cerita tentang rasa tidak mengenakkan yang kupunya dalam kehidupan asmara. Aku tadinya mau cerita tentangmu.



Tapi tidak jadi.



Kembali bercerita tentangmu setelah semua yang menimpaku ini terjadi, rasanya seperti menaruh pemantik api di seluruh lingkaran benci yang aku ciptakan.



Iya, aku tahu kalau membenci bukan jalan yang benar untuk melupakan. Tapi, aku sudah telanjur melakukannya.



Tapi, sekarang tidak lagi.



Lingkaran benci itu sudah perlahan-lahan kuhilangkan. Aku tidak bisa mengambil langkah mengikhlaskan sebagai jalan yang paling benar. Sebab, aku tidak merasa perlu mengikhlaskanmu. Sejak awal intensiku tidak sama sekali pernah ke arah memilikimu dalam hidupku.



Dan, maaf kalau aku juga tidak mengambil langkah diam seraya tidak menghiraukan apa yang kamu lakukan. Sebab, manusia tidak sempurna sepertiku ini sulit untuk luput dari lapang dada ketika aku didorong jauh hingga hampir terjatuh. Aku tidak bisa memilih diam saja. Melawanmu pun kurasa tidak perlu, cukup hidup yang akan memberimu pemahaman bahwa, kamu bahkan bukan yang baik dari yang terburuk.









Lalu, lingkaran benci itupun sudah telanjur membatasi hatiku untuk menerima dan kembali menaruh rasa pada siapapun.



Aku sama sekali tidak pernah menyalahkanmu. Aku yang menciptakannya, aku pula yang membiarkan jejaknya tak hilang sampai kini.



Karena lingkaran benci itu, aku punya ruang kosong di seisi hatiku. Rasanya sulit untuk bisa membawa orang baru atau menyilakan satu dua yang ingin masuk. Tapi, terimakasih, karenamu beserta lingkaran benci yang kubuat ini, aku jauh dari rapuh dan tidak kembali merasa lelah karena terlalu sering patah.



Dan terimakasih untuk rasa yang tersisa hampa itu hingga kini aku terus membentengi diriku dan menolak rasa sakit ku. Persetan dengan ucapan orang tentang ku. Persetan dengan wanita - wanita yang menggantikan posisiku saat ini di sampingmu. Persetan dengan semua omong kosong itu. Aku tak ingin mencinta lagi. Aku lelah patah hati. Aku lelah tersakiti.



Aku pernah mencoba namun aku gagal. Untuk itu aku lebih memilih diam. Mengurung cintaku dan menutupnya dalam. Hingga nantinya entah kapan akan ada seseorang yang lebih dari dirimu mampu membuka lingkaran itu dan membebaskannya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

To the One I Haven’t Met Yet,

I Hope You're Happy

De Jure and De Facto