Bertanyalah supaya kamu mengerti




Pernah kah dalam sekali kamu membayangkan berada di posisi ku ? Ujarku dengan begitu sabar.  Namun ternyata sabarku belum cukup membuatnya mengerti apa yang hendak aku katakan.



Maksudmu ? Aku kurang sabar ? Aku kurang apa ? Memangnya kamu pernah memposisikan dirimu menjadi aku ? Ujarnya dengan emosi yang meluap - luap.



Aku tersenyum.



Jika aku harus menceritakan semuanya kepada mu. Mungkin kamu akan langsung berbalik dan memeluk ku, meminta maaf lalu yang terparah adalah pergi menjauh setelah semua pengorbanan yang aku lakukan. Tapi, tidak begitu. Aku tak akan menceritakan atau menjelaskan pengorbanan apa saja yang aku lakukan hanya untuk dekat dengan mu, berdua bersamamu.



Aku menjawab dengan sabar. "Akan selalu ada orang yang merasa pengorbanan nya dan perasaanya lebih daripada orang lain. Untuk itu lupakanlah. Anggap saja aku tak pernah bicara demikian" ujarku menyudahi.



Bagiku, jika dia saja tidak repot bertanya apa alasan ku marah saat itu. Untuk apa aku repot bertanya bagaimana keadaannya atau untuk apa aku repot menjelaskan mengapa aku marah.



Sejatinya, meskipun hujan seringkali membohongi petani. Petani tetap dengan sabar menanti datangnya hujan.



Aku tak bermaksud nuntuk terus menyalahkanmu tapi lihatlah, apa yang selalu aku lakukan hanya untuk bertemu dengan mu. Menerobos kemacetan, menghabiskan uang ku hanya untuk makan diluar bersama mu meski setelah nya aku tak tahu harus berbuat apa, atau bahkan menerobos kedua orang tua ku hanya untuk pulang dan bertemu dengan mu. Percayalah semuanya ku lakukan demi kamu.



Semesta dan seluruh isinya riuh redam berteriak "BUCIN". Mereka menunjuku seraya tertawa. Menertawakan kebodohan ku yang terlalu lenyeh untuk cinta yang bahkan aku tak tahu kemana arahnya.



Aku hanya menatap mereka dengan diam namun hati kecilku berteriak "SALAHKAH ?"



Jujur aku tak meminta kamu merasakan apa yang aku rasakan atau meminta mu untuk mengerti bahwa aku kecewa. Tidak. Aku hanya meminta bertanyalah agar kamu paham mengapa aku meninggalkan mu begitu saja. Tanyalah apa alasanku pergi tanpa satupun kata. Tanyalah apa alasan beranjak.



Hanya aku yang tau seberapa kecewanya aku, hanya aku yang tahu mengapa aku kecewa, hanya aku yang tahu mengapa aku diam. Aku tak meminta mu untuk memahami apa yang aku rasakan, tapi ku minta bertanyalah.



Bertanyalah semudah saat kamu bertanya sedang apakah aku malam ini. Semudah kamu bertanya sedang dimakah kamu, semudah kamu bertanya cintakah kamu padaku.



Sesekali, sebelum kamu tidur untuk menyelesaikan masalah cobalah bertanya kepadaku, mengapa kamu terlihat tak suka dengan sikap ku. Atau cobalah bertanya alasan ku marah. Sehingga kita berdua bisa saling memperbaiki apa yang salah.



Kemarilah, mari kita duduk bersama dan bertanyalah sepuasmu agar aku bisa menjelaskan semua alasannya.






Komentar

Postingan populer dari blog ini

To the One I Haven’t Met Yet,

I Hope You're Happy

De Jure and De Facto