Dari aku yang bahagia meski tanpa mu.

Sekeras apapun aku berusaha, sepertinya kita memang akan menjadi dua kubu yang tidak pernah bersatu. Mungkin kau memnag yang aku mau, tapi Tuhan tahu mungkin kamu bukan yang aku perlukan sekarang.
Semisalnya waktu itu semestra tidak membiarkan kita saling mengenal satu sama lain dengan baik, aku ingin memaksanya agar aku tetap dibiarkan untuk bertemu meski tanpa mengenal. Jika tahu pada akhirnya akan ada luka yang menggores hatiku akibat mengenal mu, aku bukan ingin marah pada semesta tau kamu. Melainkan pada hatiku yang dengan lancang jatuh padamu begitu saja.
Aku tidak menyesal, hanya saja hatiku terlalu ceroboh dengan menjatuhkan diri di jurang yang gelap tanpa tahu ada apa di dalamya. Begitu bodoh dan lugu, hingga saat luka itu berhasil menggores pada hatiku saja aku jawab, "Aku tidak apa-apa"
Kalau sudah begini aku harus apa ?
Meskipun akhirnya menyakitkan, meskiupun setelah semua yang aku berikan kamu hanya membalasnya dengan sakit dan luka, di cerita singkat itu aku menulis namamu dengan huruf tebal sepertiu sesuatu yang penting. Namun, sedihnya kamu hanya menulisku dengan huruf miring seolah aku sesuatu yang asing.
Aku menutup diriku lamat - lamat untuk waktu yang cukup lama, Aku enggan membukanya hanya untuk orang - orang yang tidak bertanggung jawab. Yang hanya bisa menorehkan kembali luka yang perlahan sembuh ini. Mereka yang datang kerap kali membuatku percaya seolah rasa itu benar ada. Seolah rasa itu sungguh mampu membuat ku mabuk dan jatuh. Nyatanya ? semuanya semu dan fatamorgana.
Setiap orang mempunyai cerita ataupun kenangan masa lalunya masing - masing. Termasuk bagaimana dia bisa hanyut di masa lalunya,.
Hidup itu adalah sebuah pilihan, tetap berdiam diri dan tak beranjak itu juga pilihan. Memilih untuk pergi pun juga merupakan sebuah pilihan. Bahagia atau sedih, move on atau menangis, mencintai satu orang ataupun berselingkuh juga merupakan sebuah pilihan. Hidup itu tentang pilihan.
Bahkan memilih untuk tetap mencintaimu meskipun disakiti berkali - kali juga merupakan sebuah pilihan. Pilihan ku untuk tetap mencintaimu meskiipun aku tahu pilihan mu bukan lagi tentang seorang wanita yang mempunyai kebiasaan menyimpan semua nya rapat. Meskipun pilihan mu tak lagi jatuh kepada wanita yang selalu mengajak mu bertemu karena rindu. Meskipun pilihan mu bukan lagi tentang aku.
Dan semua rasa itu perlahan jelas sudah, dari awal perkenalan kita, yang ada di isi kepalamu hanya bagaimana caramu memenuhi rasa penasaran mu. Bukan tentang bagaimana kamu bisa masuk kedalam hati ku dan mencoba mengajak ku bangkita bersama mu.
Dari awal tujuan mu bukan hati ku tapi hanya ingin menjadikan ku pelampiasan untuk mu karena dia yang kau cinta sedang berada jauh dari mu. Dari awal aku yang salah karena aku terlalu percaaya dan memberikan semuanya kepadamu.
Seperti belati menusuk perisai ada yang berhenti sebelum usai. Seperti mematahkan jeruji yang terpatri ada yang gemar berjanji kembali mengingkari. Seperti Sunyi malam tak berhias ada yang erat menggenggam lalu memaksa lepas. Seperti merah berubah candramawa ada yang patah bercampur kecewa. Seperti gelagah yang tak teguh ada yang memilih singgah dari pada sungguh. Seperti senja yang tertutup mendung ada yang bermuram durja di balik senandung. Seperti petir yang berdentum mengetarkan jantung ada yang tersenyum walau hati meraung. Seperti bunga matahari di musim semi ada yang pergi dan pantang kembali. Seperti putih kertas yang tergurat ada yang mencoba ikhlas walau sebenarnya berat.
Tapi dari semua itu aku belajar banyak hal, dari kamu aku mengambil banyak hal yang harus aku ambil demi diriku sendiri dan demi cintaku.
Tidak ikhlas untuk melepas, tapi mau tidak mau, bisa tidak bisa, yang berlalu biarlah dia berlalu yang seharusnya pergi relakanlah pergi tak usah dipaksakan sudah waktunya belajar untuk rela, sesakit apapun rasanya.
Pergilah kejarlah dia, gapailah dia dan jangan sakiti dia yang memilih mu dan bertahan dengan mu dengan semua baik dan buruk mu. Bertahanlah dan cintai dia yang menopang mu selalu dalam setiap masalah mu, dalam setiap apapun itu.
Dari aku yang bahagia meski tanpa mu.
Komentar
Posting Komentar