Untukmu Agustus
Pertanyaan selanjutnya yang ditawarkan oleh perasaan yang gamang adalah apakah ini cinta ? Atau hanya ketertarikan karena dia berbeda dengan kisah yang lama ?
Ya, aku pernah menjadi sebuah pilihan. Haha ! I never being an option ever in my life actually. Tapi hari itu aku menjalani hal itu dan aku menikmati nya.
Pepatah mengatakan hidup adalah tentang sebuah pilihan. Pilihannya adalah untuk melangkah, berhenti atau jalan di tempat. Coba kamu bayangkan, bisakah kamu berjalan ditempat, berhenti dan melangkah dalam satu waktu yang bersamaan? Yang jawab iya coba mari datang kepada ku dan buktikan. I dare you.
Tidak ! Tidak ada seorang pun yang bisa melakukan 3 hal itu secara bersamaan. Sama hal nya dengan cinta, bisakah kamu mencintai dua orang di waktu yang sama ? Dengan perilaku yang sama ? Dengan cara yang sama ? Yang menjawab "saya bisa" sini gw toyor palanye.
Tidak ada orang yang bisa berlaku sebegitu adil nya. Bahkan seorang chef pun tidak bisa dengan pasti menakar semua nya dengan benar, kemungkinan berbeda beberapa persen pasti ada. Jadi, hidup itu masalah pilihan, apakah kamu mau melangkah dari apa yang sudah kamu putuskan sebelumnya? Atau kamu memilih berhenti sekedar untuk beristirahat dan menikmati sekitar ? Atau kamu memilih jalan ditempat tak beranjak tak maju ataupun mundur. Bahkan untuk yang paling sederhana, ketika jam makan siang tiba kamu perlu memilih makanan apa yang harus kamu makan saat itu.
Aku ? Percayalah inginku adalah melangkah. Tapi kaki ini enggan bergerak, jika dia memilih diam di tempat itu akan jauh lebih baik setidaknya aku bergerak. Nyatanya, yang aku lakukan adalah diam. Aku diam dan tak melakukan apapun. Aku berhenti. Aku beristirahat. Aku lelah.
Pernahkah kamu berada dalam posisi, kamu ingin lari tapi kaki mu terkunci oleh sesuatu yang kamu takuti tapi juga kamu senangi ? Kontradiksi ? Memang, namun percayalah itu ada. Jangan hanya dilihat dari logikanya tapi pengandaian nya dan juga situasinya.
Jawaban ku adalah aku pernah, aku ingin berlari aku ingin pergi. Aku ingin kabur. Tapi kaki ku tak bisa berkompromi dengan ku. Lagi - lagi kaki ku terkunci.Tapi aku sangat menikmati keadaan itu. Nanti juga kamu tahu bagaimana rasanya jika kamu berada di posisi yang itu. Terkadang sesuatu yang kontradiksi dan tidak bisa di logikan itu hanya bisa di rasakan bukan di bayangkan atau pun di logikan.
Bagaimana aku melewatinya ? sulit, jalan yang aku lewati tidak mulus sama sekali. Aku pikir mudah berlari dengan kondisi kaki terikat seperti itu tapi nyatanya tidak. Meskipun saat itu aku di tuntun olehnya. (red : berlari bersamanya) Tapi, aku menikmatinya. Aku menikmati setiap detik waktu ku yang tak banyak itu bersama dia. Bahkan pelarian itu terasa sangat menyenangkan meskipun menyakitkan.
Bodoh ? memang. Aku berlari meskipun aku tahu pada akhirnya aku tak akan pernah kuat berlari mengejarnya ataupun berlari bersamanya.
Setelah dia pergi aku hanya ingin duduk dan diam serta tak melakukan banyak hal. Aku lebih banyak menikmati rasa yang tersisa. Mengisi hari ku dengan menangisi dia dan membayangkan kejadian - kejadian menarik yang tersisa di ingatan ku. Aku lebih suka mendengarkan lagu - lagu yang mendayu dan melankolis karena menurutku cocok untuk keadaaan ku saat itu, aku lebih suka duduk di pinggir taman atau pergi tak tentu arah hanya untuk menghapuskan semua memori ku.
Jika kamu bertanya mengapa aku tidak mencari seseorang yang baru untuk membantu ku pulih ? maka jawab ku begini. Sayang nya, menyembuhkan luka tusuk yang dalam setelah orang mencancapkan pisau ke tubuhmu bukanlah sesuatu yang mudah. Aku mencoba berlari setelah dia menusuk ku tajam tapi aku justru merasakan sakit yang lebih, mungkin karena aku memaksakan untuk berlari ketika aku bahkan tidak mampu untuk berdiri. Dan begitulah aku selama 2 minggu pertama setelah kepergiannya, seusai kerja aku mengambil rute terjauh hanya untuk membuang waktu ku, Aku bahkan mengambil setiap kesibukan yang ada hanya untuk mengusir pikiran - pikiran yang selalu melayang di kepalaku tentang kenangan - kenangan indah ku di setiap sudut kota dengannya.
Seseorang pernah mendekati ku setelah kepergiannya, dia banyak membantuku dengan segala rasa yang ada dia mencoba masuk dengan segala kebaikannya, dia mencoba untuk mengobati luka yang aku rasakan. Tapi nyatanya, dia bahkan tak bisa membuatku tersanjung dengan semua kebaikan dia.
Mengapa ? Aku mati rasa !
Tak mudah bagiku untuk kembali membalut luka lama dan bertingkah bahwa semuanya baik - baik saja jika memang tidak ada yang baik - baik saja. Aku meraung, aku menangis bahkan aku berteriak karena tak sanggup menahan semua resah dan rindu yang begitu hebat.Tapi, aku memaksakan diriku untuk baik - baik saja. Terkadang ketika aku merindukannya aku selalu mengiriminya pesan dan berkata ' bisakah aku meminta waktu mu 5 menit ' bahkan ketika aku terjatuh di saat kritis aku mengiriminya pesan dengan harapan dia mau menjawab ku dengan jawaban yang hangat dan berkata ' ada apa ? aku disini. Ceritakanlah' namun nyatanya semua hanya khayalan ku saja. Dia tak akan pernah menjadi hangat seperti dahulu saat aku masih sering menggengam tangannya mesra atau memeluknya hangat menyalurkan seluruh rindu.
sampai kapan ? entahlah.
Entah sampai kapan rasa ini mati, entah sampai kapan aku memilih untuk menutup hati dan diri. Mungkin sampai dia kembali ?
Bodoh ! dia tidak akan pernah kembali !
Iya aku bodoh, bahkan aku marah ketika aku mengetahui dia banyak membuang waktunya dengan gadis pujaannya. Kali ini aku katakan dengan lantang aku mati rasa. Jika nanti, suatu saat nanti semesta merancang kembali pertemuan kami, aku hanya ingin menampilkan wajah luguku dan bertingkah masa kelam itu tak ada.
Apakah dia pernah membuat mu menangis ? sering ! hanya saja sekarang aku memilih untuk menjaga jarak ku, aku memilih untuk menjaga sikap ku, menjaga hatiku, luka lama ku juga belum sembuh aku tak ingin lagi jatuh cinta dengan tergesa aku ingin menikmati setiap rasa yang ada. Jika memang semesta lagi - lagi menjatuhkan aku untuknya, aku harap semuanya sudah rapih. baiklah kita menata hati kita.
P.s tenanglah, aku masih memegang janjiku. Sampai dengan saat itu tiba pergilah, bertualanglah, kembali lah kepadanya, ciumlah dia, peluklah dia. Jangan hiraukan aku. Aku bahagia. Dan ini menjadi tulisan terakhir ku dan kabar terakhir ku untukmu. Sampai saatnya nanti tiba tolong berbahagialah, ambil setiap detik bahagia mu dengan nya.
Komentar
Posting Komentar