Begini, biar aku yang bicara
Begini biarkan aku yang bicara kali ini
Sudah lebih dari seminggu semenjak terakhir kita bertukar kabar, tentang hal apa yang sudah dilewati dihari itu. Tentang bagaimana prinsip - prinsip mu yang kadang ( kebanyakan ) tidak aku mengerti. Tapi, aku masih disitu dan mendengarkan.
Perdebatan kita hari itu adalah sesuatu yang menyenangkan dan menyegarkan seperti kaleng soda yang baru pertama kali dibuka.
Suara mu malam itu membuat ku mampu bertahan sampai hari ini. Aku menyimpan suara mu lekat - lekat dalam ingatan ku sehingga jika nanti aku merindukan mu hingga menangis lagi aku tak perlu mengirimi mu pesan dan berkata aku merindukan mu.
Atau ketika aku merasa semua nya terlalu menyesakkan dada dan aku butuh tangan mu untuk menenangkan atau, melihat senyum mu atau mendengarkan suara mu, yang perlu aku lakukan hanya memutar kembali memoar indah itu atau hanya dengan menyebut namamu
"Klise" tapi itu menyejukkan.
Bagiku bagian tersulit pasca kehilangan lagi - lagi bukan hanya karena aku tidak lagi bisa melihatnya atau mendengarkan suaramu atau memegangmu. Tapi karena aku harus membiasakan diri, membiasakan hati untuk menjalani apa yang harus dilalui tanpa sosok yang dulu pernah begitu aku inginkan.
Sebab Tuhan menciptakan ingatan. Oleh karena itu izinkan aku untuk menoleh pada masa lalu. Pada waktu kita masih terhantam rindu setiap hari, ketika kamu merengek untuk menemui ku ketika weekend, ketika kamu berharap aku tak perlu menemui orang tua ku di waktu senggang mu.
Sebab Tuhan menciptakan tangis. Oleh karena itu biarkan aku menangis. Bersedih memeluk luka yang sampai saat ini terasa karena, sampai kapanpun aku tak pernah bisa mengerti kenapa aku menjatuhkan diriku dan harapan ku kepadamu. Lalu, mengapa dia harus datang saat semuanya sudah hampir terang.
Sebab Tuhan menciptakan kamu. Oleh karena itu aku mau kamu datang kepelukan ku , menghapus lukaku, sedihku, cemas ku, ragu ku dan air mataku. Ketika aku menginginkan mu begitu dalam kenyataan selalu menghantam ku lebih keras bahwa bukan lagi aku yang membuat mu tersenyum dan tertawa tapi dia, dia yang mengisi hari mu dan bahagiamu.
Aku ingin berterimakasih kepadamu. Karena dengan mu aku belajar untuk mengerti artinya kesabaran dalam penantian yang tidak pasti. Sebab denganmu aku menanti hingga pada di titik bosan dan bodohnya meskipun aku tahu tidak ada yang dapat aku andalkan dari penantupe tersebut dengan kerasa kepala aku tetap menanti dengan gamang dan pintu hati yang tertutup.
Karena setelah dengan mu, aku kehilangan selera untuk kembali mencari sosok pengganti mu.
Sudah lebih dari seminggu semenjak terakhir kita bertukar kabar, tentang hal apa yang sudah dilewati dihari itu. Tentang bagaimana prinsip - prinsip mu yang kadang ( kebanyakan ) tidak aku mengerti. Tapi, aku masih disitu dan mendengarkan.
Perdebatan kita hari itu adalah sesuatu yang menyenangkan dan menyegarkan seperti kaleng soda yang baru pertama kali dibuka.
Suara mu malam itu membuat ku mampu bertahan sampai hari ini. Aku menyimpan suara mu lekat - lekat dalam ingatan ku sehingga jika nanti aku merindukan mu hingga menangis lagi aku tak perlu mengirimi mu pesan dan berkata aku merindukan mu.
Atau ketika aku merasa semua nya terlalu menyesakkan dada dan aku butuh tangan mu untuk menenangkan atau, melihat senyum mu atau mendengarkan suara mu, yang perlu aku lakukan hanya memutar kembali memoar indah itu atau hanya dengan menyebut namamu
"Klise" tapi itu menyejukkan.
Bagiku bagian tersulit pasca kehilangan lagi - lagi bukan hanya karena aku tidak lagi bisa melihatnya atau mendengarkan suaramu atau memegangmu. Tapi karena aku harus membiasakan diri, membiasakan hati untuk menjalani apa yang harus dilalui tanpa sosok yang dulu pernah begitu aku inginkan.
Sebab Tuhan menciptakan ingatan. Oleh karena itu izinkan aku untuk menoleh pada masa lalu. Pada waktu kita masih terhantam rindu setiap hari, ketika kamu merengek untuk menemui ku ketika weekend, ketika kamu berharap aku tak perlu menemui orang tua ku di waktu senggang mu.
Sebab Tuhan menciptakan tangis. Oleh karena itu biarkan aku menangis. Bersedih memeluk luka yang sampai saat ini terasa karena, sampai kapanpun aku tak pernah bisa mengerti kenapa aku menjatuhkan diriku dan harapan ku kepadamu. Lalu, mengapa dia harus datang saat semuanya sudah hampir terang.
Sebab Tuhan menciptakan kamu. Oleh karena itu aku mau kamu datang kepelukan ku , menghapus lukaku, sedihku, cemas ku, ragu ku dan air mataku. Ketika aku menginginkan mu begitu dalam kenyataan selalu menghantam ku lebih keras bahwa bukan lagi aku yang membuat mu tersenyum dan tertawa tapi dia, dia yang mengisi hari mu dan bahagiamu.
Aku ingin berterimakasih kepadamu. Karena dengan mu aku belajar untuk mengerti artinya kesabaran dalam penantian yang tidak pasti. Sebab denganmu aku menanti hingga pada di titik bosan dan bodohnya meskipun aku tahu tidak ada yang dapat aku andalkan dari penantupe tersebut dengan kerasa kepala aku tetap menanti dengan gamang dan pintu hati yang tertutup.
Karena setelah dengan mu, aku kehilangan selera untuk kembali mencari sosok pengganti mu.


Komentar
Posting Komentar