Memuja-Nya dengan cara berbeda



Semesta kadang sebercanda itu. Mereka sering mempermainkan perasaan dua manusia yang duduk dengan layu dengan jutaan pikiran yang melayang dipikiran mereka. Bagaimana mungkin semesta membiarkan dua manusia dengan pikiran mereka masing - masing tanpa memberitahu kalau sebenarnya pikiran mereka sama. Kadang semesta memang selucu itu.



Jatuh dan Cinta. Jatuh cinta itu tidak mudah, tidak ada yang pernah mudah jika berbicara tentang cinta dan jatuh. Jika, kamu siap 'Jatuh Cinta' berarti kamu harus mempersiapkan dirimu untuk sesuatu yang menyakitkan dan memabukkan. Jatuh itu tidak mudah bagi sebagian orang, mereka memiliki versinya masing - masing. Ada orang yang membutuhkan waktu bertahun - tahun untuk bisa dapat memulai kembali dan mengenal 'Jatuh dan Cinta'. Lalu, ada juga orang yang hanya butuh waktu sekian bulan untuk kembali memulai kisah 'Jatuh dan Cinta' yang baru. Dan yang terakhir, ada orang yang bahkan hanya membutuhkan kurang dari hitungan jam untuk 'Jatuh dan Cinta'. Bagi sebagian orang 'Memulai' itu tidak mudah.



Aku ? aku masuk Versi 1. Aku membutuhkan 2 tahun untuk mengembalikan semuanya seperti semula. Mengembalikan perasaan ku seperti sedia kala saat aku belum mengenalnya. Mengembalikan perasaan yang dulu sempat mati dibuatnya. Bukan aku tidak butuh dengan Cinta hanya saja, menjatuhkan pilihan ku lalu kembali menjalani siklus yang sama kembali bagi ku tidak mudah dan tidak sebercanda itu. Aku memerlukan waktu untuk kembali berdamai dengan masa lalu ku dan diriku sendiri. Tapi, aku juga bisa masuk ke Versi 3, kenapa ? karena aku masih percaya dengan falling at the first sight.



Moving on ? itu perkara lain. Moving On  bukan perkara yang mudah. Bukan tentang berpindah dari satu hati ke hati yang lain. Ini perkara bagaimana kita melupakan rasa. Moving On bukan hanya tentang bagaimana kita melupakan kisah kita bersama orang itu. Moving On itu perkara melupakan rasa dan kenangan yang pernah terjalin bersama. Seperti kita tidak bisa melupakan bagiamana rasa gurih dari metcin, bagaimana rasa asin dari garam, bagaimana rasa manis nya gula. Meskipun indra perasa kita mati atau tidak dapat berfungsi lagi, otak kita tidak akan bisa lupa bagaimana rasanya. Lain soal dengan kita yang lupa dimana kita menaruh dompet, dimana kita menaruh handphone, dimana kita meletakkan remote tv.



Lalu apakah aku sudah Move on ? sudah ! dan aku rasa saat itu ketika aku menemukan dia yang semesta pilihkan untuk ku ketika dia sedang bercanda. Dia menjatuhkan diri ku kepada orang yang tak mungkin aku milki. Bukan karena dia tidak bisa aku miliki hanya saja, perbedaan diantara kita yang membuat aku dan dia harus memutuskan untuk mengikuti kehendak semesta.



Aku pernah berlutut di hadapan--Nya untuk diizinkan bersatu dengan-Nya. Aku besimpuh sambil menitikan air mataku  meminta restu hanya untuk dipersatukan dengan dia orang yang aku cinta. Aku berdoa agar dia bisa mencintai aku dan hubungan kami bisa di restui. Ya, aku meminta restu semesta bukan meminta restu dari kedua orang tua ku yang aku tahu kedua orang tua kami tidak mungkin memberikan restu. Hidup sebercanda itu, perihal bagaimana kita berlutut selalu menjadi masalah. Saat aku melipat kedua tangan ku untuk berdoa, dia membuka kedua tangannya untuk berdoa. Jarak itu memang membuat kami jauh, tapi aku mencintainya.











Aku tidak pernah mempermasalahkan perihal bagaimana kita Memuja-Nya dengan cara yang berbeda. Tapi, beberapa orang mempermasalahkan bagaimana cara kita Memuja-Nya. Tuhan kita memang satu, kita yang tak sama, haruskah aku lantas pergi meski cinta tak-an bisa pergi. Benteng begitu tinggi sulit untuk ku gapai. Atau yang membuat benteng itu justru kita sendiri ? Atau mungkin kah itu hanya leluconnya untuk pergi dari ku ? bukan karena agama tapi karena memang dia sudah menemukan yang baru.











Hahhhh... SEMESTA SEKALI SAJA BERPIHAKLAH KEPADA KU.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

To the One I Haven’t Met Yet,

I Hope You're Happy

De Jure and De Facto