AKU MENYERAH




Menyerah sebetulnya bukan keahliaan ku. Aku selalu
menggunakan semua kekuatan ku untuk mendorong mu bergerak maju. Ingatkah kamu
dahulu aku selalu mendorong mu bergerak untuk terus maju ? menggunakan segala
apa yang ku punya untuk terus mendorong mu maju. Tapi, salahkah aku jika saat
ini aku memutuskan untuk menyerah ?


Membiarkan mu berjalan sesuai dengan apa yang hatimu
mau ?


Tak pernahkah terlintas di kepala mu bagaimana
sulitnya aku mendorongmu maju ? bagaimana aku berusaha menghubungi teman
terdekat mu untuk tetap membiarkan mu hidup ?


Tak pernahkah kamu ingat semua hal yang telah kita
lakukan bersama ? bagaimana aku mensupport mu dikala kamu tidak menemukan titik
terang di dalam kehidupan mu ?


Seharusnya kamu tidak mundur ketika hal itu mendorong
mu mundur, harusnya kamu mendorongnya terus maju untuk mendorongnya dan
mengalahkannya.


Tapi, aku tahu kamu kalah. Aku tahu kamu akan kalah. Kamu
tidak cukup kuat mendorongnya dan mengalahkannya.


Maafkan aku jika aku tidak sesuai dengan ekspektasi
mu. Maafkan aku jika usaha ku, aku hentikan sampai disini. Maafkan aku, aku
bergerak mundur.


Maafkan aku membiarkan mu berjalan sendiri sesuai
dengan apa yang kamu inginkan. Maafkan aku, jika aku melepasmu.


Jujur ini bukan kemauan ku. Tapi, aku bukan orang yang
sabar. Aku bukan tipikal orang yang suka menahan jika orang yang ku tahan
justru selalu mencari celah untuk pergi.


Lalu, apa yang harus aku lakukan ?


Aku pergi. Maaf. Tapi ini harus ku lakukan untuk
menelan dan menghapus semua rasa kecewa ku pada mu.


Demi kamu, aku pergi hanya untuk membuang semua rasa
kecewa ini. Hanya agar semua perasaan yang ada dulu diantara kita tidak hilang
karena rasa kecewa.


Maaf Aku Menyerah





Komentar

Postingan populer dari blog ini

To the One I Haven’t Met Yet,

I Hope You're Happy

De Jure and De Facto