Bahagiakah ?
Sudah
sama-sama bahagia, ya?
Tidak.
Jawabannya tidak.
Antara tidak
tahu atau tidak bena
Aku tidak
tahu jika dia sudah bahagia atau belum, yang jelas dia terlihat bahagia.
Semuanya manis dan baik-baik saja. Aku turut senang meskipun tak bisa aku
sangkal jika sebagian dari diriku masih tidak rela dan ingin menjadi tokoh
dalam ceritanya.
Tidak benar.
Barangkali
permintaan dan tebakanku jadi kenyataan. Dia dan aku sama tidak bahagianya,
hanya berpura-pura bahagia dan saling berlomba siapa yang paling manis agar
mampu menutupi ketidakrelaan kita yang berakhir tragis.
Segala yang
kusuguhkan adalah upaya membuatnya cemburu, terlalu panas dan gerah hingga
akhirnya luluh dan mencariku.
Aku kini
adalah versi paling tidak dewasa yang kulalui. Berpura-pura bahagia karena iri
dan bukan karena ingin menyenangkan diriku sendiri.
Bahkan jika
aku boleh aku ingin menarik semua yang pernah ku katakana dan mengulangnya
kembali.
Yap !
kembali ke keadaan sebelum semuanya ini terjadi. Dimana seolah aku menemukan
kebahagiaan ku disana. Bersamanya.
Tapi,
Mencoba untuk
menghilangkan dia dari otak ku adalah sesuatu yang sulit untuk aku lakukan. Sesuatu
yang memaksa aku untuk berusaha lebih keras lagi. Karena saat itu dia adalah
pusat kebahagiaan ku.
Jakarta, 24
April 2018
p.s ku tulis
ini saat untuk kesekian kalinya aku melihat dia bahagia bersama wanitanya.
Komentar
Posting Komentar